AKSESORIS RAJUT BUNDA HARJANTI
gadis aries
Minggu, 26 April 2015
Selasa, 21 April 2015
KTI KB Mini Pil
KBAB
I
A. Latar
Belakang
Indonesia merupakan sebuah
negara berkembang dengan jumlah peningkatan penduduk yang tinggi (Sulistyawati,
2011; h.vii). Jumlah penduduk Indonesia yang terekam dalam pendataan keluarga
menunjukan terjadi peningkatan dari 234.292.695 jiwa pada tahun 2011 menjadi
237.896.180 jiwa pada tahun 2012, yang terdiri dari jenis kelamin laki-laki
sebanyak 119.376.274 jiwa dan perempuan sebanyak 118.519.906 jiwa. Dari hasil
pendataan keluarga tersebut didapatkan Pasangan Usia Subur (PUS) sebanyak
45.504.450 pasangan. Sedangkan tingkat kesertaan ber-KB terhadap PUS secara
nasional menunjukkan adanya sedikit kenaikan (0,63%) yaitu dari 71,39% pada
Pendataan Keluarga Tahun 2011 menjadi 72,02% pada Tahun 2012 (BKKBN, 2013).
Sedangkan Provinsi Jawa Tengah masih
menghadapi tantangan yang cukup serius dalam pembangunan Kependudukan dan
Keluarga Berencana (KKB). Walaupun Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) terendah di
seluruh Indonesia (0,37%), namun karena penduduk Jawa Tengah cukup besar
(32.380.657 jiwa), maka penduduknya masih
akan bertambah cukup signifikan. Apalagi tingkat kelahiran menunjukkan
kecenderungan meningkat cukup tajam. Sedangkan jumlah Penduduk Kota Semarang
tahun 2013 adalah 1.744.500 jiwa ( Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Daerah
Provinsi Jawa Tengah, 2013) dengan PUS
sebanyak 25.996 pasangan menempati peringkat ketiga setelah pati (45.710
pasangan) dan purbalingga (34.351 pasangan) (BKKBN, 2013).
Sementara itu pengentasan kemiskinan menjadi salah satu
agenda/prioritas pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia bersama semua
perangkat negara dan seluruh unsur masyarakat memikul tanggung jawab untuk
memberantas kemiskinan guna memenuhi komitmen pencapaian target MDGs pada 2015
mendatang yaitu presentase kemiskinan menjadi 7,5 % (Latifah, 2011). Kemiskinan keluarga dalam jumlah yang
besar mencerminkan kemiskinan bangsa yang merupakan masalah besar dalam
pembangunan. Kemiskinan keluarga justru disebabkan oleh kehamilan dan kelahiran
yang tidak terkendali (Manuaba, 2009; h.234).
Oleh sebab itu
pemerintah berupaya mengendalikan kuantitas penduduk melalui program Keluarga
Berencana (KB) dalam rangka meningkatkan kualitas penduduk melalui perwujudan
keluarga kecil yang berkualitas dan pembangunan yang berwawasan kependudukan
(LAKIP BKKBN, 2012; h.2).
Menurut WHO, Keluarga
Berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri
untuk mendapatkan objektif-objektif tertentu, menghindarkan kelahiran yang
tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, mengatur
interval diantara kelahiran, mengontrol waktu kelahiran dengan umur suami istri, dan menentukan
jumlah anak dalam keluarga (Pinem, 2009; h.188).
Macam-macam
metode kontrasepsi keluarga berencana
yaitu : metode sederhana meliputi (metode kalender, metode suhu basal,
metode lendir serviks, metode simpto-termal, dan coitus interruptus) metode
modern meliputi kontrasepsi hormonal (Pil oral kombinasi, Mini pil, morning
after pil, suntik kombinasi, suntik progestin, dan Alat Kontrasepsi Bawah Kulit
(AKBK), Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) dan kontrasepsi mantap seperti
Metode Operasi Wanita (MOW) dan Metode Operasi Pria (MOP). Salah satu metode
kontrasepsi yang efektif apabila diminum secara teratur, aman, praktis,
kesuburannya cepat kembali, dan tidak mengganggu proses laktasi adalah
kontrasepsi mini pil (Saifuddin, 2010; h. MK-48).
Mini pil, yang
berisi microde saja, ternyata tidak memenuhi apa yang sebelumnya diharapkan
yaitu sebagai penerus dari kontrasepsi pil kombinasi. Diseluruh dunia, mini pil
tidak mendapatkan penerimaan yang luas, baik dari pihak wanita maupun dari
pihak petugas medis KB. Lebih dari 50 juta akseptor kontrasepsi oral, hanya 1
dari 150 wanita yang menggunakan Mini Pil. Walaupun pada tahun 1967 telah diketahui dengan jelas bahwa
estrogen dalam kontrasepsi hormonal per oral merupakan penyebab dari timbulnya
efek samping seperti mual, muntah serta timbulnya bekuan darah. Oleh karena itu
adanya metode kontrasepsi yang bebas estrogen seperti Mini Pil merupakan hal
yang sangat menarik (Hartanto, 2013; h.155).
Banyak
perempuan yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi
karena terbatasnya metode yang tersedia, dan ketidaktahuan mereka tentang
persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut (Pinem, 2009; h.189,207).
Salah satu peranan penting bidan adalah meningkatkan jumlah penerimaan dan
kualitas metode keluarga berencana kepada masyarakat sesuai dengan pengetahuan
dan keterampilan bidan (Manuaba, 2012; h.592). Melalui konseling, bidan
membantu klien dalam memilih dan memutuskan jenis kontrasepsi yang akan
digunakannya dan sesuai dengan keinginannya, membuat klien merasa lebih puas,
meningkatkan kepercayaan dan hubungan yang sudah ada antara bidan dengan klien,
membantu klien dalam menggunakan kontrasepsi lebih lama dan meningkatkan keberhasilan
KB (Pinem, 2009; h.189,207).
Dari data
Provinsi Jawa Tengah yang diperoleh dari bulan Januari sampai bulan Desembar
2012 Pencapaian peserta KB baru provinsi Jawa Tengah sebanyak 1.028.969 peserta
atau 104,77% diantaranya akseptor KB baru Pil sebanyak 170.974 peserta
(71,18%), dan akseptor KB aktif Pil sebanyak 835.365 peserta (15,46%). Dari
rinci per mix kontrasepsi pencapaian peserta KB Baru Wanita sampai dengan bulan
Desember 2012 adalah 974.369 peserta (106,95%). Sedangkan pencapaian peserta KB
aktif sebanyak 5.403.576 peserta (128,60%) (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
Tengah, 2013).
Dari hasil
survey pendahuluan yang telah dilakukan di Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang
diperoleh data akseptor KB aktif Pil sebanyak 30.202 peserta, sementara itu puskesmas
Telogosari Wetan menduduki peringkat kedua terbanyak yaitu 2.799 peserta (9,3
%) setelah puskesmas Kedung Mundu yaitu sebanyak 3.314 peserta (11 %) (Profil
Kesehatan Kota Semarang, 2012), sedangkan bidan Hj. Indriani adalah salah satu
bidan yang berada di wilayah puskesmas Tlogosari Wetan yang masih menyediakan
Mini Pil.
Data geografis
bidan Hj. Indriani yaitu terletak di Jl. Sapta Prasetia kelurahan Pedurungan
Selatan, ± 100 m dari Jl. raya
Fatmawati, sebelah utara berbatasan dengan pasar Pedurungan, sedangkan sebelah
selatan berbatasan dengan SD Pedurungan.
BPM Hj. Indriani merupakan bidan delima yang memberikan pelayanan 24 jam,
letaknya yang strategis dan dilewati oleh banyak orang membuat Bidan Praktik Mandiri
(BPM) Hj. Indriani selalu ramai dikunjungi pasien.
Dari data yang diperoleh di BPM Hj.
Indriani Kecamatan Pedurungan Kabupaten Semarang, dari bulan Januari sampai
Desember 2013 didapatkan data Pasangan usia subur sebanyak 3.701 orang, peserta
KB Pil kombinasi 51 orang, pil progestin
13 orang, suntik kombinasi 1.584 orang, suntik progestin 1.968 orang, AKDR
15 orang, Implant 3 orang, dan kondom 2
orang.
Dari hasil survey penulis melalui
wawancara dan observasi ternyata stok
mini pil benar-benar tersedia disana, sedangkan di Bidan Praktik Mandiri lain
dan di Puskesmas tidak tersedia mini pil, karena yang tersedia hanya pil kombinasi. Namun asuhan kebidanan
yang dilakukan di BPM Indriani didapatkan belum sesuai dengan yang seharusnya
karena dari sisi pengkajian data subjektifnya hanya ditanyakan
identitasnya nama dan umur saja,
data objektifnya
tidak dilakukan pemeriksaan Tanda-Tanda
Vital (TTV)
maupun pemeriksaan fisik, selain itu pada penatalaksanaannya hanya dijelaskan
tentang keuntungan, efek samping, cara
meminum mini pil, aturan bila lupa meminum pil dan jadwal kunjungan
ulang saja, serta tidak dilakukan
pendokumentasian dalam Catatan Medis (CM).
Hal tersebut menunjukan bahwa asuhan yang diberikan di BPM Hj. Indriani belum
sesuai dengan tujuh langkah varney.
Oleh karena itu, penulis tertarik
untuk melaksanakan studi kasus dengan judul “Asuhan Kebidanan Pada Ny. A AkseptorBaru KB Mini Pil di BPM Hj. Indriani S.SiT Kecamatan Pedurungan Kota Semarang
tahun 2014”.
Langganan:
Postingan (Atom)






